Ekonomi

Ekspor Perhiasan RI Tembus USD 9,1 Miliar, Melonjak 64,73 Persen

6
×

Ekspor Perhiasan RI Tembus USD 9,1 Miliar, Melonjak 64,73 Persen

Sebarkan artikel ini

Jakarta, Top8News – Kinerja industri perhiasan nasional menunjukkan tren positif. Sepanjang Januari–Desember 2025, nilai ekspor barang perhiasan dan barang berharga Indonesia mencapai USD 9,1 miliar atau melonjak 64,73 persen dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar USD 5,5 miliar.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai capaian tersebut menjadi bukti bahwa produk perhiasan Indonesia semakin diterima dan memiliki daya saing yang kuat di pasar internasional.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, industri perhiasan merupakan salah satu subsektor manufaktur yang memiliki nilai tambah tinggi dan memberikan kontribusi penting terhadap ekspor nasional.

“Industri perhiasan menjadi salah satu sektor unggulan yang memiliki nilai tambah tinggi dan kontribusi penting terhadap ekspor manufaktur Indonesia. Tidak hanya berperan sebagai penghasil devisa negara, tetapi juga menjadi wadah pelestarian produk bernilai budaya serta penciptaan lapangan kerja yang tersebar di berbagai daerah,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Senin (15/6/2026).

Menurut Agus, peningkatan ekspor tersebut menunjukkan prospek industri perhiasan nasional yang semakin baik. Karena itu, penguatan kualitas produk, inovasi desain, keberlanjutan usaha, serta kemampuan industri dalam merespons tren pasar global perlu terus ditingkatkan.

“Peningkatan ekspor ini menjadi bukti bahwa industri perhiasan Indonesia memiliki prospek yang sangat baik. Momentum ini harus terus dijaga melalui penguatan ekosistem industri yang mampu mendorong inovasi, produktivitas, dan daya saing secara berkelanjutan,” tegasnya.

Untuk mendukung pengembangan industri perhiasan nasional, Kemenperin menjalankan berbagai program pembinaan, peningkatan kapasitas industri, transformasi teknologi, hingga perluasan akses pasar. Salah satunya melalui dukungan terhadap penyelenggaraan Bandung Jewellery Fair (BJF) 2026 yang berlangsung pada 11–14 Juni 2026.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita mengatakan transformasi digital dan implementasi Industri 4.0 menjadi faktor penting dalam memperkuat daya saing industri perhiasan nasional. Pemanfaatan teknologi dinilai mampu meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat inovasi, dan menghasilkan produk yang lebih berkualitas sesuai kebutuhan pasar.

Kemenperin juga telah melakukan penilaian Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) terhadap sejumlah perusahaan di sektor industri aneka, termasuk pelaku industri logam mulia dan perhiasan. Hasilnya menunjukkan tingkat kematangan yang baik dalam penerapan teknologi digital, mulai dari digitalisasi sistem manajemen, pemanfaatan kecerdasan buatan, keamanan siber, produk cerdas terkustomisasi, hingga integrasi teknologi pintar dalam proses produksi.

Melalui berbagai langkah tersebut, Kemenperin optimistis industri perhiasan nasional akan semakin kompetitif, mampu memperluas pasar ekspor, serta memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.