Uncategorized

Menjaga Rasa, Merawat Kenangan: Kisah Warga Peninjauan Lestarikan Sawo Asin

6
×

Menjaga Rasa, Merawat Kenangan: Kisah Warga Peninjauan Lestarikan Sawo Asin

Sebarkan artikel ini

OKU, Top8News – Di tengah derasnya arus zaman dan perubahan cara hidup yang terus bergeser, warga Desa Peninjauan, Kecamatan Peninjauan, Kabupaten Ogan Komering Ulu, masih setia memegang erat satu warisan leluhur yang tak ternilai harganya: cara mengolah dan mengawetkan buah sawo menjadi sawo asin.

 

Adat yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Jeme Bakhi ini kembali diangkat ke permukaan dalam pertemuan budaya yang digelar pada Senin (1/6/2026), dengan gagasan utama melindungi serta menghidupkan kembali cara pengolahan itu sebagai pengetahuan yang tumbuh dari kearifan setempat.

 

Bagi penduduk desa di sana, sawo asin jauh lebih dari sekadar camilan atau hasil olahan buah. Di setiap tahap pembuatannya, tersimpan kisah kebersamaan, kesabaran, serta cara nenek moyang mereka menyesuaikan diri dengan alam sekitar—sesuatu yang telah dijalani puluhan tahun lamanya.

 

Para pembicara dalam pertemuan itu mengakui, cara mengawetkan sawo ini adalah bagian tak terpisahkan dari jati diri masyarakat Jeme Bakhi. Meski kini makin jarang diketahui anak muda, tradisi itu tetap bertahan, seolah tak mau lenyap begitu saja ditelan waktu.

 

Membuat sawo asin butuh ketelatenan dan kesabaran, mulai dari memilih buah yang pas, merendamnya, hingga menjemurnya di bawah sinar matahari. Dulu, pekerjaan ini tak pernah dikerjakan sendirian, selalu jadi momen berkumpul seluruh anggota keluarga bahkan tetangga di sekitarnya.

 

Menurut Reza Yuniska Sari, yang menggagas pertemuan tersebut, cara dan rahasia pembuatan sawo asin masih hidup dalam ingatan sebagian warga tua di desa itu. Itulah sebabnya, mencatat dan menyusunnya menjadi catatan tertulis jadi langkah paling penting: supaya tak ikut hilang saat generasi yang tahu mulai tiada.

 

Ia juga menjelaskan, penyusunan catatan hingga menjadi buku itu bertujuan menuliskan apa yang selama ini hanya disampaikan lewat cerita lisan, dari orang tua kepada anak, lalu diteruskan ke cucu.

 

“Kami sungguh berterima kasih kepada warga Desa Peninjauan yang masih rela berbagi kisah dan pengetahuan ini. Tanpa kesediaan mereka, mustahil kami bisa merangkai seluruh cerita dan cara pembuatannya,” ucapnya.

 

Lewat pertemuan budaya dan catatan yang disusun itu, warga pun menaruh harap besar: agar anak muda kini makin mengenal apa yang sebenarnya dimiliki tanah kelahiran mereka. Sebab melestarikan sawo asin bukan sekadar mempertahankan cara mengolah buah, tetapi sekaligus merawat kenangan bersama, nilai kehidupan, serta jati diri yang telah membentuk masyarakat Jeme Bakhi sampai hari ini.

 

Kegiatan itu sendiri merupakan wujud dukungan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Selatan di bawah naungan Kementerian Kebudayaan. Sebuah pengingat sederhana namun mendalam, bahwa warisan bangsa tak selalu berbentuk bangunan megah atau benda berharga. Kadang ia tersimpan dalam rasa, dalam cara mengolah buah, dan dalam kesetiaan satu masyarakat menjaga apa yang pernah diajarkan leluhurnya. (*)