PERAK, MALAYSIA – Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang memperkuat jejaring akademik internasional melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Internasional dan Visiting Academic di Madrasah Idrisiah, Perak, Malaysia. Kunjungan tersebut mempertemukan akademisi, pengelola pendidikan Islam, dan mahasiswa dari Indonesia dan Malaysia untuk mendiskusikan pengembangan pembelajaran agama Islam serta tata kelola pendidikan Islam di tengah tantangan global.
Delegasi Pascasarjana UIN Raden Fatah dipimpin Wakil Direktur Dr. Muhammad Torik, Lc., M.A. bersama Prof. Dr. Ovi Fitriyanti, Prof. Dr. Ermis Suryana, Dr. Yulia Tri Samiha, Dr. Yuyun Yunuarti, Dr. Muhammad Abdillah, serta mahasiswa Program Magister Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI).
Rombongan disambut langsung oleh Mudir Madrasah Idrisiah, Ustadz Khairul Anwar el-Syadzali bin Musa, beserta jajaran pimpinan dan pengurus madrasah di kompleks lembaga pendidikan Islam yang telah menjadi salah satu ikon pendidikan di Negeri Perak.
Dalam sambutannya, Khairul Anwar menegaskan bahwa Madrasah Idrisiah merupakan institusi pendidikan Islam yang memiliki sejarah panjang dalam membangun tradisi keilmuan di Malaysia. Berdiri sejak 1922, madrasah tersebut kini telah memasuki usia lebih dari satu abad dan tetap mempertahankan identitasnya sebagai lembaga pendidikan Islam yang berpijak pada tradisi keilmuan klasik sekaligus terbuka terhadap pembaruan.
“Madrasah Idrisiah didirikan pada tahun 1922 dan merupakan antara madrasah tertua di Negeri Perak. Selama lebih satu abad, kami berusaha menjaga warisan keilmuan Islam sambil terus melakukan transformasi agar mampu menjawab kebutuhan zaman. Hari ini kami tidak hanya membina aspek keagamaan, tetapi juga memperkuat kualitas akademik, kepemimpinan, serta penguasaan teknologi dalam pendidikan. Kehadiran Pascasarjana UIN Raden Fatah menjadi kehormatan bagi kami kerana membuka ruang pertukaran pengalaman yang sangat bernilai bagi kedua-dua institusi.”
Menurutnya, tantangan pendidikan Islam dewasa ini tidak lagi dapat dijawab secara parsial. Kolaborasi lintas negara menjadi kebutuhan untuk memperkaya perspektif, memperkuat inovasi pembelajaran, dan melahirkan model pendidikan Islam yang tetap berakar pada nilai-nilai keislaman sekaligus relevan terhadap perkembangan masyarakat global.
Sementara itu, Wakil Direktur Pascasarjana UIN Raden Fatah, Dr. Muhammad Torik, Lc., M.A., mengatakan bahwa lawatan akademik tersebut merupakan bagian dari strategi internasionalisasi kampus yang diarahkan untuk membangun kolaborasi nyata antara institusi pendidikan tinggi Indonesia dan Malaysia.
“Kami menyampaikan penghargaan atas sambutan luar biasa dari Mudir beserta seluruh keluarga besar Madrasah Idrisiah. Kehadiran kami melalui PKM Internasional dan Visiting Academic bukan sekadar kunjungan persahabatan, tetapi menjadi ikhtiar memperkuat kerja sama akademik, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, publikasi ilmiah, serta pertukaran dosen dan mahasiswa. Kami ingin belajar dari pengalaman Madrasah Idrisiah sebagai institusi yang telah bertahan lebih dari satu abad, sekaligus berbagi praktik-praktik baik yang dikembangkan Pascasarjana UIN Raden Fatah dalam penguatan pendidikan Islam di Indonesia.”
Muhammad Torik menilai hubungan akademik antara Indonesia dan Malaysia memiliki modal historis, kultural, dan keilmuan yang kuat. Karena itu, kolaborasi antarlembaga pendidikan Islam perlu terus diperluas agar mampu menghasilkan inovasi pendidikan yang memberikan kontribusi bagi dunia Islam secara lebih luas.
Agenda utama kemudian dilanjutkan dengan diskusi akademik interaktif yang mempertemukan dosen, pengelola pendidikan, dan mahasiswa kedua institusi. Diskusi membahas berbagai isu strategis, mulai dari model pembelajaran Pendidikan Agama Islam, penguatan kurikulum berbasis karakter, tata kelola lembaga pendidikan Islam, pengembangan kepemimpinan pendidikan, hingga implementasi manajemen pendidikan Islam di Indonesia dan Malaysia.
Forum tersebut juga menjadi ruang bertukar pengalaman mengenai sistem penjaminan mutu pendidikan, pengembangan kompetensi guru, digitalisasi pembelajaran, serta strategi menjaga keseimbangan antara pelestarian tradisi keilmuan Islam dengan tuntutan transformasi pendidikan pada era teknologi.
Mahasiswa Magister PAI dan MPI Pascasarjana UIN Raden Fatah turut terlibat aktif dalam sesi dialog. Mereka mendiskusikan praktik pengelolaan pendidikan Islam di kedua negara sekaligus memperoleh pengalaman akademik internasional yang memperluas wawasan mengenai dinamika pendidikan Islam di kawasan Asia Tenggara.
Kegiatan ditutup dengan komitmen bersama untuk memperkuat hubungan kelembagaan melalui program akademik berkelanjutan, termasuk kolaborasi riset, publikasi internasional, pertukaran akademisi, serta pengembangan program pengabdian kepada masyarakat yang berdampak bagi penguatan pendidikan Islam di tingkat regional.
Lawatan ini menegaskan bahwa diplomasi akademik tidak hanya memperluas jejaring institusi, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam membangun ekosistem pendidikan Islam yang adaptif, kolaboratif, dan berdaya saing global di tengah perubahan lanskap pendidikan internasional. (rbt)














