Mataram, Top8news – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) meluncurkan Gerakan Tanam Cabai untuk Pengendalian Inflasi (TAPSI) sebagai bagian dari reformasi pendidikan yang mengintegrasikan penguatan karakter peserta didik dengan ketahanan pangan daerah.
Program tersebut diluncurkan Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, di SMKN 5 Mataram, Rabu (15/7/2026), bersamaan dengan peluncuran sejumlah kebijakan strategis di bidang pendidikan.
Dalam arahannya, Gubernur menjelaskan TAPSI lahir dari pengalaman NTB saat lonjakan harga cabai menjadi salah satu penyumbang utama inflasi. Kondisi tersebut membuat pemerintah harus mendatangkan pasokan cabai dari luar daerah dengan biaya yang tinggi.
Melalui program itu, setiap siswa baru SMA, SMK, dan SLB di NTB diwajibkan menanam satu pohon cabai. Dengan sekitar 41 ribu peserta didik baru pada tahun ini, NTB diproyeksikan memiliki cadangan lebih dari 20 ton cabai yang dapat dimanfaatkan sebagai instrumen pengendalian inflasi sekaligus menjadi media pembelajaran karakter bagi peserta didik.
“Ini bukan sekadar menanam cabai. Anak-anak belajar menyemai, merawat, memanen, hingga memasarkan hasilnya. Mereka belajar bertanggung jawab, peduli terhadap lingkungan, sekaligus membangun keterampilan hidup yang kelak akan berguna bagi masa depan mereka,” kata Miq Iqbal.
Gerakan TAPSI menjadi salah satu dari lima program strategis yang diluncurkan Pemerintah Provinsi NTB dalam reformasi pendidikan. Empat program lainnya meliputi Golden Ticket, SMK Mendunia, bantuan perlengkapan sekolah bagi siswa kurang mampu, serta relaksasi pemanfaatan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Melalui reformasi pendidikan tersebut, Pemerintah Provinsi NTB menegaskan komitmennya membangun ekosistem pendidikan yang berkualitas, merata, adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja, sekaligus melahirkan generasi yang unggul, berkarakter, peduli terhadap lingkungan, dan siap menjadi penggerak pembangunan menuju NTB Makmur Mendunia.














