PendidikanRegional

AI Makin Sulitkan Bedakan Fakta dan Hoaks, Jateng Perkuat Literasi Berbasis Komunitas

11
×

AI Makin Sulitkan Bedakan Fakta dan Hoaks, Jateng Perkuat Literasi Berbasis Komunitas

Sebarkan artikel ini

Semarang, Top8News – Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat membuat penyebaran hoaks dan disinformasi kian sulit dibendung. Kehadiran teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bahkan membuat masyarakat semakin kesulitan membedakan informasi yang benar dengan informasi yang telah dimanipulasi.

 

Merespons tantangan tersebut, Dinas Komunikasi, Informatika, dan Digital (Diskomdigi) Provinsi Jawa Tengah memperkuat peran Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) dan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) sebagai mitra strategis dalam menangkal hoaks melalui pendekatan yang humanis dan berbasis komunitas.

 

Hal itu disampaikan dalam Workshop FK Metra dan KIM bertema “Strategi Optimalisasi Peran KIM dan FK Metra: Kiat Kreatif, Mandiri, dan Berdampak bagi Masyarakat” yang digelar di Gedung Merah Putih Kompleks Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu (15/7/2026).

 

Kepala Diskomdigi Jawa Tengah, Lilik Henry Ristanto, mengatakan tantangan penyebaran informasi saat ini semakin kompleks. Menurutnya, masyarakat tidak hanya dihadapkan pada informasi yang salah, tetapi juga persepsi kebenaran yang terbentuk dari informasi keliru yang terus diulang.

 

Karena itu, keberadaan FK Metra dan KIM dinilai semakin penting. Keduanya memiliki kekuatan membangun hubungan kemanusiaan dan kedekatan emosional dengan masyarakat, sesuatu yang belum dapat digantikan oleh teknologi AI.

 

“Maka, peran KIM dan FK Metra hari-hari ini juga semakin menantang, mengambil dari sisi-sisi humanis yang tidak bisa diambil oleh AI, karena basisnya komunitas, basis media tradisional dan seni pertunjukan,” kata Lilik.

 

Ia menambahkan, penguatan kapasitas para pegiat KIM dan FK Metra perlu terus dilakukan agar pesan-pesan yang disampaikan kepada masyarakat dapat diterima secara efektif sesuai karakteristik dan kebutuhan masing-masing kelompok sasaran.

 

Dengan kedekatannya bersama masyarakat, FK Metra dan KIM diharapkan tetap menjadi pilar penting dalam penyebarluasan informasi sekaligus garda terdepan melindungi masyarakat dari dampak negatif digitalisasi.

 

“Karena KIM ini bersatu dengan masyarakat, FK media tradisional juga berbasis pertunjukan, bersatu dengan masyarakat, harapannya pesan-pesan itu juga lebih dipercaya atau mudah sampai kepada komunikan,” ujarnya.

 

Selain menangkal hoaks, keberadaan FK Metra dan KIM juga dinilai strategis sebagai instrumen komunikasi publik dalam menyosialisasikan berbagai program pemerintah kepada masyarakat.

 

“Termasuk juga program-program Pemprov Jawa Tengah maupun kabupaten/kota. Jadi KIM dan FK Metra menjadi salah satu instrumen bagaimana pemerintah menyampaikan pesan-pesan kepada masyarakat,” tambahnya.

 

Sementara itu, Ketua FK Metra Jawa Tengah, Daniel Agung Wahyudi, menilai kesenian tradisional masih sangat efektif sebagai media diseminasi informasi karena telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Menurutnya, informasi yang disampaikan melalui media tradisional lebih mudah diterima masyarakat karena menggunakan pendekatan budaya.

 

Pada kesempatan yang sama, Pengampu KIM dari Diskominfo Kabupaten Karanganyar, Sopiyatun, memaparkan berbagai peran strategis KIM, mulai dari diseminasi informasi berbasis komunitas, edukasi literasi digital dan media sosial, hingga promosi potensi desa seperti UMKM, pariwisata, dan kebudayaan.

 

Ia menegaskan KIM harus mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekaligus menjadi mitra pemerintah dalam menyebarluaskan informasi pembangunan dan potensi daerah.

 

“KIM harus berdampak. Peran KIM dibutuhkan sebagai mitra pemerintah dalam mendiseminasikan informasi seputar pembangunan, program, maupun promosi potensi daerah,” tegasnya.